Sunday, October 27, 2013

Moral DPR dan Tanggung Jawab Parpol


Oleh: Zamhasari Jamil

Nama-nama calon anggota legislatif (Caleg) yang diajukan oleh Partai Politik (Parpol) untuk “bertarung” pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 mendatang telah diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Seperti Pemilu pada tahun-tahun sebelumnya, karakteristik nama-nama Caleg yang muncul tersebut tak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Nama-nama Caleg yang tampil masih didominasi oleh anggota DPR petahana (incumbent), selebritis, keluarga dan kerabat pejabat di pemerintahan. Di tingkat pusat, setidaknya ada 15 orang diantara Caleg tersebut merupakan keluarga dekat Presiden SBY dan ada 4 orang pula yang merupakan keluarga dekat Rhoma Irama. Kenyataan ini memperkuat keyakinan masyarakat bahwa perpolitikan di Indonesia ini masih lekat dengan uang, hubungan keluarga dan kekuatan lama, sehingga perpolitikan di republik ini belum mengedepankan kapasitas, kapabilitas atau kemampuan, pengalaman dan keunggulan yang dimiliki oleh seseorang.

Ada beberapa hal yang menyebabkan perpolitikan di negeri kita ini terkesan tidak tertata rapi: Pertama, penerapan aturan hukum yang masih lemah. Peraturan yang berkaitan dengan Pemilu selalu saja berubah-ubah dalam setiap pemilihan, tergantung selera dan kepentingan para pembuat aturan tersebut, dan tidak pula mendasarkan peraturan yang dilahirkan itu kepada proses pendewasaan demokrasi di negeri ini. Itulah alasan mengapa politik di negeri ini masih dalam tahap konsolidasi walaupun sudah 15 tahun reformasi. Jadi, lemahnya aturan hukum ini membuat para politikus leluasa untuk mengekploitasi hukum sesuai dengan kepentingan mereka. Penulis dapat mengatakan bahwa perusak hukum di negeri kita adalah mereka yang telah merumuskan dan melahirkan hukum itu sendiri.

Kedua, prilaku pemilih yang masih “gila idola”. Akhir-akhir ini ada kecenderungan peralihan prilaku pemilih di Indonesia yang pada awal-awal reformasi masih mengutamakan paham atau aliran kesepahaman (untuk tidak mengatakan aliran kepercayaan dan aliran keyakinan). Sebagai contoh, pada awal-awal reformasi ada partai baru yang berlandaskan kepada agama tertentu sangat mendapat tempat di hati pemilih (rakyat), namun seiring dengan bergulirnya waktu saat petinggi partai tersebut tersandung kasus hukum, maka tak sedikit yang mencela dan merasa menyesal karena telah menyanjung dan memuja partai itu secara berlebihan. Lihat saja misalnya dalam Pilgubri putaran I pada 4 September 2013 lalu, Cagubri yang diusung oleh partai yang selama ini dikenal bersih dan jauh dari “zona syubhat” tak lagi mendapat tempat di hati rakyat.

R. William Liddle, profesor Ilmu Politik di Ohio State University, Amerika Serikat dan juga pakar ke-Indonesia-an mengungkapkan bahwa karakteristik prilaku pemilih Indonesia lebih mengedepankan popularitas figur dan ketokohan seseorang ketimbang ideologi partai pengusung Caleg yang bersangkutan. Itulah sebabnya mengapa figur-figur selebritis, mereka yang akrab dengan media terutama televisi dan juga keluarga politikus dan pejabat yang sedang berkuasa memiliki peluang dan tingkat kemungkinan terpilih dalam Pemilu lebih besar karena memang mereka sudah memiliki popularitas yang cukup memadai. Modal popularitas ini pulalah yang tidak menafikan sebagian Parpol untuk mengusung Caleg-caleg yang sudah punya nama ini, selain mengharapkan kapital yang akan menghidupkan mesin Parpol tersebut. Parpol tak usahlah memungkiri karena memang tak ada Parpol yang tidak mengharapkan kapital dari setiap Caleg yang diusungnya. Walaupun mungkin tidak “diminta” ketika masih dalam proses pencalonan, tapi bisa saja harus “menyetor lebih” kepada Parpol pengusungnya bila sudah duduk di “rumah perwakilan rakyat” itu nantinya.

Ketiga, tanggung jawab Parpol yang tak jelas. Kasus hukum yang menyeret banyak petinggi Parpol akhir-akhir ini menunjukkan bahwa tanggung jawab Parpol terhadap kader-kadernya tidak ada sama sekali dan itu terlihat sangat jelas. Adapun memberhentikan kader atau meminta kader yang terlibat kasus hukum untuk mundur atau berhenti bukanlah merupakan sikap arif dan bijaksana Parpol, sebaliknya itu merupakan tindakan “cuci tangan” Parpol.

Masing-masing Parpol pastilah berusaha sekuat mungkin untuk menjadikan Parpolnya tetap “berkibar” dan selalu berada di puncak.  Tentu saja, memenangi Calegnya dalam Pemilu dan mendanai Parpol ini agar tetap berjalan sesuai dengan harapan tertingginya selalu menjadi perhatian utama. Dan kesempatan yang paling besar itu ada bila Parpol mencalonkan mereka yang memang sudah punya nama dan populer di hadapan masyarakat. Proses dan mekanisme seleksi Caleg dan mempromosikan kader Parpol untuk maju di Pemilihan Legislatif apalagi dengan memandang dan mengedepankan kualitas Caleg belumlah menjadi prioritas utama bagi sebagian Parpol di negeri ini.              

Idealnya, bila Parpol betul-betul ingin mendapatkan Calegnya yang berkualitas dan memiliki integritas yang baik, maka Parpol haruslah terbuka dalam proses seleksi dan merekrut calon-calon yang ada secara terbuka, tidak semata-mata memandang popularitasnya semata. Parpol haruslah menayangkan background Caleg yang diusungnya itu sehingga pemilih betul-betul dapat mengenal siapa Caleg yang patut dan layak untuk mewakili suaranya di gedung Dewan tersebut. Tidak seperti yang selama ini terjadi: asal pilih saja. Mana Caleg yang sering terdengar namanya dan sering muncul di layar kaca, maka dialah yang dipilih, walaupun umumnya pemilih di negeri kita ini tak mengetahui secara jelas dan pasti background Caleg yang dipilihnya itu.

Pemilih tak ada pilihan lain terhadap semua Caleg yang diusung oleh Parpol selain memilih salah-satu diantara Caleg yang ada. Kehati-hatian dan ketelitian Parpol dalam mengusung Calegnya adalah sesuatu yang dinantikan oleh Pemilih Indonesia dalam rangka mendapatkan Perwakilan Rakyat yang betul-betul berkualitas. Pada dasarnya, moral Caleg yang kemudian terpilih menjadi Dewan Perwakilan Rakyat itu adalah tanggung jawab partai, karena Parpol-lah yang telah mengusung mereka. Sedangkan rakyat hanya dihadapkan pada pilihan: memilihnya atau tidak memilihnya sama sekali.   

Zamhasari Jamil, Ketua Laboratorium dan dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Abdurrab Pekanbaru.

Read more!

Sunday, July 01, 2012

Perdamaian Syiria Harapan Kita

Oleh: Zamhasari Jamil
Peminat Kajian Politik dan Hubungan Internasional; Alumnus Aligarh Muslim University, India.

Kunjungan Kofi Annan yang merupakan utusan khusus Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Liga Arab dan juga merupakan mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB  ke Syiria akhir Mei lalu itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Ini merupakan kunjungannya yang kedua setelah 10 Maret silam. Kehadiran Annan tersebut tentu saja menawarkan solusi baru menuju perdamaian di negeri pimpinan Basyar Al-Asad itu. Pergolakan yang telah berlangsung di Syiria selama lebih kurang 16 bulan ini tentu saja membawa imbas yang tak diharapkan bagi dunia internasional umumnya dan terlebih lagi bagi negara di kawasan Asia Barat yang dalam beberapa tahun terakhir ini memiliki catatan mengenai konflik internal dan sipil yang berakhir dengan tumbangnya sang penguasa. Berakhirnya rezim Hosni Mubarak di Mesir dan Muammar Khadafi di Libya tentu masih segar dalam ingatan kita.

Demi perdamaian di Syiria, Rusia  memberi sinyal bahwa Rusia tak lagi berfikir untuk mempertahankan kelangsungan kepemimpinan Asad. Bahkan Rusia nampaknya mendukung skenario “mendamaikan Yaman” diterapkan di Syiria bila memang skenario itu diterima oleh rakyat Syiria. Skenario yang diamini oleh Amerika Serikat dan nampaknya juga bakal diikuti oleh Cina. Selama ini Rusia dan Cina memang dikenal sebagai sabahat dekat Syiria.

Kenyataan menunjukkan bahwa selagi Asad masih memegang tampuk kepemimpinan di Syiria, impian damai di Syiria masih jauh dari harapan. Sepertinya kunjungan mantan Sekjen PBB itu tak membawa dampak yang berarti bagi perkembangan perdamaian di Syiria. Mengenai rencana baru sejumlah aktor yang terlibat dalam konflik Syiria, Rusia dan Iran tetap menjamin keikutsertaan mereka dalam menjaga kepentingan mereka di kawasan itu. Kini, kekhawatiran telah muncul, bila Asad tak segera meletakkan jabatannya, maka perang saudara di Syiria tak akan berkesudahan dalam waktu dekat ini, mengingat kubu Asad sepertinya sulit untuk mengambil hati kubu oposisi yang nampaknya belum rela berdamai dengan kubu Asad, walaupun baru-baru ini Asad sudah merombak susunan kabinetnya dengan melibatkan pihak oposisi kedalam kabinet yang baru dibentuknya ini.

Perpecahan di Syiria setiap hari makin menjadi-jadi. Militer tak lagi dapat mengontrol konflik yang terus menjalar ke seluruh wilayah itu. Hal ini memungkinkan kelompok oposisi mendapatkan tempat sekaligus sebagai titik awal untuk sesegera mungkin menggulingkan Asad dari kursi kepresidenannya. Annan menawarkan solusi agar Asad keluar dari Syiria dan menyingikir ke Rusia, disaat yang bersamaan pula beredar rumor di salah satu harian AS yang melaporkan bahwa Asad telah menggelapkan uang negara sebasar enam miliar dolar. Tentu saja semua ini membuat oposisi di Syiria semakin meradang dan sulit menerima kepemimpinan Asad lagi.

Sejauh ini pihak keamanan Syiria belum mau berbicara mengenai reformasi di Syiria. Yang jelas proses untuk mendamaikan Syiria tak bisa disamakan dengan proses mendamaikan Yaman mengingat struktur keamanan di Syiria itu sangat berbeda sekali dengan Yaman. Perlu diingat bahwa kepemimpinan Bashar Al-Asad merupakan rekayasa pihak keamanan dan militer Syiria setelah kematian ayahandanya. Tentu saja penunjukan Asad sebagai pengganti ayahandanya ini sempat membuat dunia heran dan tercengang dibuatnya.

Perlu diingat bahwa rencana yang ditawarkan oleh Annan kepada Asad untuk mempercepat proses perdamaian di Syiria itu tidak berbeda jauh dengan usulan Zionis, Ehud Barak, yang diumumkannya saat kunjungannya ke Amerika Serikat beberapa pekan lalu. Usulan itu kemudian diyakini pula oleh Presiden AS, Barak Obama. Rencana dan usulan itu mereka sebut dengan skenario Yaman, dimana Israel sangat khawatir terhadap posisi mereka bila gelojak di Syiria tak dapat dicegah sesegera mungkin. Obama mengingatkan bahwa untuk menjamin kelangsungan hidup di Syiria, penggunaan jargon militerisasi revolusi hendaknya dihindari, karena hal itu rentan terhadap munculnya jargon jihad baru yang apabila istilah jihad ini muncul nantinya, maka hal itu akan lebih sulit untuk diredam lagi dan pada akhirnya nanti hanya kegagalan dalam mendamaikan Syirialah yang ditemui.

Hal utama yang patut kita tanya adalah: apakah Asad bersedia menerima tawaran Annan tersebut atau tidak? Karena posisi Asad saat ini tentu sangat menentukan nasib keamanan, lembaga militer dan darah anak-anak Syiria beberapa dekade ke depan. Masa depan Syiria ada di tangan Asad hari ini. Dalam hemat kami, akan lebih terhormat bila Asad dengan suka rela turun dari tahta kepresidenannya demi menjaga keutuhan bangsa dan negaranya sendiri sebelum Asad digulingkan oleh kubu oposisi yang tentu saja didukung oleh kekuatan-kekuatan ekternal yang selama ini memang sudah berseberangan dengan Asad sendiri.

Kita memang tak tahu jawaban yang pasti, meskipun nampaknya Asad takkan menerima solusi yang ditawarkan Annan itu. Sepertinya Asad punya resep sendiri untuk meredam konflik di dalam negerinya sendiri dan sekaligus memenangkannya dari oposisi. Kita akan sama-sama menunggu keputusan yang akan dibuat Asad, dan mudah-mudahan Turki dan beberapa negara Arab yang bertetangga dengannya dapat memainkan pengaruhnya guna mewujudkan perdamaian di Syiria yang sudah dinantikan oleh jiwa-jiwa yang tak berdosa di negeri itu. Perdamaian, tidak hanya di Syiria, tapi juga di seluruh belahan bumi ini, tentu menjadi harapan dan dambaan kita semua. Oh penghuni dunia, berdamailah! *

Read more!

Saturday, May 19, 2012

Pendidikan Tentang Makna Manusia

(Renungan Memasuki Rajab 1433 H)

Oleh: H. Zamhasari Jamil, MA.
Alumnus Aligarh Muslim University, India; Peminat masalah pendidikan,
berdomisili di Kec. Kubu Babussalam, Rokan Hilir.

LAMA penulis termenung hanya untuk mencari arti dan makna kata ‘manusia’, makhluk yang oleh Tuhan diberi kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain, yaitu kelebihan berupa akal pikiran dan hawa nafsu. Dan Alhamdulillah, terlintas dalam pikiran penulis seuntai kalimat Arab ini: Al-insanu makanul khata’ wal-nisyan. Artinya: Kesalahan dan kelupaan itu hanya ada pada manusia.

Didalam Bahasa Arab, Kata ‘an-nisyan’ yang berarti ‘kelupaan’ itu berasal dari kata ‘nasiya-yansa’, suatu bentuk kata kerja (verb) masa lalu dan masa sekarang (sedang) yang artinya ‘telah lupa’ dan ‘sedang lupa’. Adapun untuk ‘kata nama tempat’ atau lebih populer dalam ilmu Bahasa Arab dengan sebutan ‘isim makan’ dari kata ‘nasiya-yansa’ itu adalah ‘mansiyan’ atau ‘mansia’, yang berarti ‘tempat lupa’. Ringkasnya, penulis dapat mengatakan bahwa salah dan lupa itu adalah “bawaan” manusia sesuai dengan sifat namanya seperti yang sudah penulis uraikan dimuka tadi. Jadi, ‘mansia’ dalam Bahasa Arab-nya dan ‘manusia’ dalam Bahasa Indonesia-nya, bermakna tempat lupa atau yang memiliki sifat lupa.

Penulis berpandangan bahwa anak-anak kita dan anak-anak didik kita harus mendapatkan pengetahuan tentang makna manusia itu semenjak dini. Dengan demikian, diharapkan mereka dapat memaksimalkan potensi dan kemampuan yang ada pada diri mereka itu dan dapat pula berusaha untuk menyempurnakan kelemahan-kelemahan yang ada padanya. Disinilah letak pentingnya orang tua dan guru memberikan pemahaman tentang makna manusia itu sendiri.

Bila usia manusia ini diumpamakan dengan waktu dalam sehari, maka usia bayi itu diumpamakan sebagai waktu subuh. Usia remaja itu diibaratkan dengan waktu dhuha, sedangkan usia dewasa itu waktu dzuhur, dan usia senja itu adalah waktu ashar, serta saat sakratul maut diumpamakan sebagai waktu maghrib. Dan waktu malam itu adalah kehidupan di alam kubur atau alam barzakh yang gelap gulita. Hanya amal ibadah yang shalih kita di dunia inilah yang akan menjadi penerang didalamnya.

Allah SWT memiliki perhatian khusus bahkan bersumpah dengan salah satu waktuNya, yaitu waktu ashar. Disitu Allah SWT menyatakan bahwa sesungguhnya manusia ini benar-benar dalam keadaan merugi. Sebab, banyak diantara kita yang lupa dan menyia-nyiakan waktu sejak dari waktu subuh hingga waktu zuhur bahkan tanpa terasa tiba-tiba kita sudah berada di waktu ashar, bahkan sampai maghrib dan kemudian malam. Dalam kaitannya dengan usia manusia, banyak pula diantara kita yang telah lupa dan menyia-nyiakan waktu hingga mencapai usia dewasa bahkan mencapai usia senja atau uzur, sedangkan pada usia yang sudah uzur ini segala kegiatan atau amal ibadah tersebut sering tak dapat dilakukan dengan maksimal lagi. Faktor lupa inilah yang membuat kita menyia-nyiakan waktu tersebut.

Secara tegas Allah mengatakan bahwa manusia dalam keadaan merugi, apalagi bila sudah mencapai usia senja namun belum juga berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, bagi agama, bangsa dan negaranya. Kita patut meneladani tokoh-tokoh disekitar kita yang memiliki semangat juang yang tinggi dan semangat membangun untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat walaupun dari segi usia sudah memasuki ‘waktu ashar’ atau usia senja. Sesuailah dengan syair Arab kuno yang mengatakan bahwa pemuda itu tak cukup dilihat dari usianya, tapi dari semangatnya juga. Bisa saja dari segi usia masih pemuda, tapi bila tak memiliki semangat juang dan semangat untuk membangun lagi, maka si-pemuda inilah yang pantas disebut sebagai yang uzur dan berada di usia senja.

Maka manusia macam manakah yang tidak merugi disisi Allah SWT? Manusia yang tidak merugi itu adalah (QS. Al-Ashr: 3): Pertama, beriman kepada Allah SWT dan semua hal-hal yang wajib untuk diimani sebagaimana yang termaktub didalam rukun iman. Ciri-ciri orang yang beriman (QS. Al-Anfal: 2-3) itu adalah: (a) bergetar hatinya apabila disebutkan dan mendengar nama Allah SWT, (b) merasa teduh dan serta bertambah keimanannya bila mendengarkan ayat-ayat Allah SWT, (c) berserah diri dan bertawakkal kepada Allah SWT, (d) mendirikan shalat tepat pada waktunya, dan (e) senantiasa menginfaqkan sebagian dari harta yang telah dikaruniai oleh Allah SWT kepadanya. Mereka inilah orang-orang yang sebenar-benarnya beriman menurut standar yang ditetapkan oleh Allah SWT (QS. Al-Anfal: 4).

Kedua, manusia yang tidak termasuk kedalam kelompok yang merugi selanjutnya adalah yang selalu berbuat amal kebaikan. Seorang yang memiliki hati nurani yang suci dan bersih, ia akan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang betul dan mana yang salah, mana yang haknya dan mana yang bukan haknya. Hanya orang-orang yang sudah buta mata hatinya sajalah yang tak dapat lagi membedakan semuanya ini.      

Ketiga, orang yang saling menasehati dalam hal kebenaran. Tidak ada celah baginya untuk membenarkan yang salah, apalagi sampai mendukung kegiatan atau prilaku yang salah supaya dapat dibenarkan. Keempat, orang yang saling menasehati dalam hal kesabaran. Sabda Rasulullah SAW, “Sabar itu indah”. Namun kita juga mengakui bahwa bersabar itu sangatlah berat dan susah. Seperti contoh, sabar untuk tidak berlaku curang dalam ujian, sabar untuk tidak menjahili kawan, sabar untuk tidak menganiaya dan menghina orang lain, sabar untuk tidak berlaku korupsi terhadap waktu, jabatan dan amanah yang diembankan kepada kita. Dan yang tak kalah beratnya juga adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada perintah Allah SWT dan RasulNya.

Akhirnya, memasuki bulan Rajab 1433 H ini dimana dua bulan lagi sampailah kita ke bulan Ramadhan. Mari kita sambut dengan puasa sunnah masing-masing tiga hari di awal, pertengahan dan akhir untuk bulan Rajab dan Sya’ban tahun ini seraya berdoa kepada Allah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah: Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikan usia kami di bulan Ramadhan nanti. Juga mari kita memohon kepada Allah SWT semoga kita, anak kita dan anak-anak didik kita menjadi orang yang tidak lupa dan tidak merugi, namun sebaliknya menjadi orang yang beruntung hidup di dunia dan di akhirat kelak nantinya, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.*


Read more!

Sunday, May 06, 2012

Hias Kelulusan UN Dengan Syukuran

Oleh: H. Zamhasari Jamil, MA.
Peminat masalah pendidikan, berasal dari Kecamatan Kubu Babussalam, Rokan Hilir.

BARANGKALI saat ini sabar yang paling berat melanda siswa-siswi SMP/SMA sederajat yang sudah mengikuti Ujian Nasional beberapa waktu lalu adalah menunggu pengumuman hasil UN itu. Hal ini memang sangat beralasan karena pendidikan yang selama tiga tahun mereka jalankan itu hasilnya akan ditentukan oleh UN tersebut. Bagaimana tidak, hasil UN ini pulalah yang akan menentukan nasib mereka selanjutnya apakah mereka berhak untuk meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau tidak.

Terlepas dari penantian akan pengumuman hasil UN, dimana para siswa-siswi yang sudah melakukan UN tersebut saat ini sudah tidak aktif lagi di sekolah, akan tetapi sekolah belum sepenuhnya bisa lepas tangan dan lepas tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan oleh siswa-siswinya di luar kelas atau di luar sekolah. Sampai siswa-siswi tersebut benar-benar sudah menyelesaikan segala administrasinya di sekolah terkait barulah fungsi kontrol sekolah sepenuhnya dikembalikan lagi kepada orang tua atau wali siswa-siswi masing-masing.

Menurut hemat penulis, dalam masa-masa yang “kritis” menjelang pengumuman hasil UN ini pihak sekolah masih memiliki kesempatan untuk membekali pendidikan adab atau pendidikan karakter kepada siswa-siswinya. Memang, semua lapisan masyarakat, terutama pihak orang tua dan keluarga dan tidak terkecuali pula pihak kepolisian untuk tidak mengabaikan fungsi kontrol terhadap siswa-siswi yang akan lulus ini guna mengantisipasi prilaku dan tindakan negatif siswa-siswi dalam menyikapi pengumuman kelulusan tersebut. Karena itu, segenap orang tua dan wali siswa-siswi, masyarakat dan juga pihak kepolisian, pun pihak sekolah haruslah tiada jemu dan senantiasa tetap mengingatkan bahwa kelulusan setiap siswa-siswi ini mesti disikapi dengan hal-hal positif.

Mensyukuri Kelulusan

Hal-hal positif menyikapi kelulusan itu diantaranya: Pertama, setiap siswa-siswi yang lulus itu menyadari sepenuhnya bahwa kelulusan mereka merupakan anugrah dari Allah SWT, Tuhan YME. Sudah selayaknya siswa-siswi tersebut bagi yang Muslim segera melakukan sujud syukur sebagai bentuk terima kasih kepada Allah SWT yang telah menganugrahkan kelulusan kepada siswa-siswi yang telah berhasil dalam melaksanakan UN tahun ini. Bagi yang non-Muslim dipersilakan juga untuk mensyukuri kelulusan ini sesuai dengan ritualitas dan keyakinannya pula.

Kedua, semua siswa-siswi harus menyadari bahwa kelulusannya juga tak terlepas dari dukungan orang tua atau walinya baik yang secara langsung ataupun tidak langsung. Tak jarang orang tua atau wali siswa-siswi itu, demi membiayai pendidikan anak-anaknya mereka rela berjuang menantang teriknya matahari di ladang dan persawahan atau menantang ombak guna menangkap ikan di tengah lautan hanyalah untuk sebuah kelulusan dan kesuksesan pendidikan anaknya di kemudian hari. Adalah patut sekali bila kelulusan ini dipersembahkan kepada orang tua atau wali siswa-siswi tersebut yang telah memberikan dukungan penuh mereka hingga akhirnya siswa-siswi bisa lulus pada satuan tingkat pendidikan ini.

Ketiga, para siswa-siswi juga harus menyadari betul bahwa selama ini mereka telah melakukan kegiatan belajar formal di lembaga pendidikan yang disitu tidak bisa dilepaskan adanya peran guru dalam mendidik mereka. Itulah sebabnya, dalam menyikapi kelulusan ini sewajarnya pula diikuti dengan berterima kasih kepada guru-guru yang telah membina dan mendidik para siswa-siswi selama mengikuti pendidikan di lembaganya itu. Bahkan dianjurkan pula untuk tetap meminta doa dan ridho mereka demi kesuksesan pendidikan siswa-siswi lagi di masa depan.

Keempat, tak dapat dipungkiri bahwa kelulusan ini tentunya juga tak terlepas dari dukungan walaupun sebatas dukungan moril dari adik-adik kelasnya, maka makna kelulusan ini akan menjadi lebih istimewa lagi bila disertai dengan berterima kasih juga kepada adik-adik junior di sekolahnya. Barangkali bentuk terima kasih kepada junior sekurang-kurangnya adalah dengan meninggalkan citra positif angkatan yang lulus tahun ini hingga akhirnya akan dikenang oleh juniornya sepanjang masa.

Suara Hati untuk Siswa-siswi

Mengakhiri tulisan ini, penulis sekaligus juga mewakili suara hati segenap lapisan masyarakat  ingin menyampaikan kepada ananda siswa-siswi: (1) selamat dan sukses atas kelulusan siswa-siswi tahun ini; (2) jangan melakukan tindakan tawuran sebagai bentuk pelampiasan kebahagiaan dalam menyikapi kelulusannya; (3) bersyukurlah kepada Allah SWT, Tuhan YME yang telah menganugrahkan kelulusan tersebut; (4) berterima kasihlah kepada orang-orang yang telah berjasa dalam pendidikan siswa-siswi semua hingga ananda lulus semua; dan (5) bagi yang tak perlu dengan pakaian seragam sekolah itu lagi, sumbangkanlah pakaian sekolah ananda siswa-siswi kepada adik-adik junior atau siswa-siswi lain yang mungkin lebih membutuhkannya dari pada dicoret-coret dimana coret-coret seragam sekolah menyambut kelulusan UN itu hanyalah sebagai bentuk tindakan mubazir dan sia-sia belaka. Bangkitlah pendidikan Indonesia! *[]

Read more!

Wednesday, May 02, 2012

Berharap Kado “Perpustakaan” di Hardiknas

Oleh: H. Zamhasari Jamil, MA.
Peminat Pendidikan, berasal dari Kec. Kubu Babussalam, Rokan Hilir.

DI Indonesia, tanggal 2 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Beragam kegiatan yang bernuansa pendidikan bisa saja diadakan dalam rangka memperingati Hardiknas ini, seperti lomba membaca puisi, menulis artikel, meresensi buku, menulis profil atau sosok tokoh dan pegiat pendidikan dsb. Kegiatan-kegiatan seperti itu dapat diadakan baik tingkat pelajar, guru, maupun masyarakat umum. Hal ini tentu saja akan dapat menjadikan Hardiknas betul-betul menyentuh masyarakat Indonesia secara luas. Sehingga upacara Hardiknas yang diadakan sekali setahun ini tidak hanya sebatas seremonial belaka.

Ditengah geliat pembangunan infrastruktur di Kabupaten Rokan Hilir saat ini, tentunya masyarakat berharap agar pembangunan mutu dan kualitas pendidikan juga tidak diabaikan. Tentu, salah satu bentuk perhatian terhadap mutu dan kualitas pendidikan itu adalah dengan menyediakan sarana pendukung, diantaranya keberadaan perpustakaan. Pemikiran untuk membangun Perpustakaan Daerah atau Perpustakaan Kabupaten, Perpustakaan Kecamatan, Perpustakaan Desa bahkan Perpustakaan RT/RW sekalipun sudah saatnya untuk diperhitungkan keberadaannya.

Kehadiran perpustakaan yang kreatif dan inovatif mempunyai kemungkinan yang cukup besar untuk mengundang masyarakat  agar mengunjungi dan memanfaatkannya. Kreatif yang dimaksud adalah dengan melibatkan masyarakat untuk menyumbangkan buku, misalnya mewajibkan satu rumah penduduk menyumbang dua buku. Bisa juga pemerintah daerah atau pemerintah setempat mencanangkan program pengadaan buku setiap tahun melalui angggaran yang disediakan.

Sedangkan inovatif dimaksud adalah dengan menjadikan perpustakaan tersebut mampu menciptakan suasana yang membuat banyak orang merasa membutuhkannya dan nyaman berada didalamnya, seperti suasana lingkungan yang pro lingkungan anak-anak, pro kalangan pelajar atau mahasiswa, pro ibu-ibu yang suka memasak. Ini dapat dilakukan bila pengelola perpustakaan tersebut mempunyai kepekaan terhadap bahan bacaan yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga persoalan yang menimpa banyak perpustakaan wilayah atau perpustakaan sekolah yang selama ini terkesan menjenuhkan dan membosankan dapat dihindari.

Kejenuhan dan kebosanan itu muncul berawal dari keberadaan perpustakaan yang tidak kreatif dan inovatif itu tadi. Sebagai contoh, keberadaan buku yang hanya itu-itu saja dan tata letak ruang yang terkesan angkuh dan tak bersahabat dengan pengunjungnya.

Bila kita mau mengaca kepada negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Jepang misalnya, para orang tua sudah membiasakan tradisi membaca kepada anaknya sejak kecil. Karena itu tidak heran bila mereka sambil menunggu pesawat di bandara atau sambil menunggu bus di terminal, kita akan menyaksikan mereka yang begitu antusias untuk membaca sebuah buku, entah itu buku novel, buku ilmiah, majalah atau koran. Yang penting prinsip mereka adalah terus membaca dan membaca. Bahkan yang mungkin diluar perkiraan pikiran kita adalah mereka juga mendesain –maaf- ruang toilet yang juga nyaman digunakan pada saat membuang hajat sambil membaca.

Dengan demikian, pesan “Iqra” atau perintah membaca yang terdapat didalam ajaran Islam itu lebih dulu diterapkan oleh masyarakat yang non-Muslim. Begitu juga pesan kebersihan sebagaimana yang disebut oleh Rasulullah Muhammad sebagai bagian daripada iman itu juga lebih awal diterapkan oleh suku bangsa yang beragama non Muslim juga. Karena itulah, bila kebiasaan ini tak dapat kita rubah, maka pantaslah kita ini disebut sebagai umat manusia yang hanya ber-Islam sebatas akidah, tapi belum ber-Islam dalam hal kebudayaan dan kebiasaan.

Tidaklah salah bila Sayyid Qutub, seorang ulama asal Mesir pernah menyebutkan: Aku menemukan Islam itu di Eropa, bukan di Timur Tengah. Maksudnya adalah seperti budaya membaca dan budaya bersih yang seharusnya sudah diterapkan di kalangan umat Islam yang mayoritas berada di wilayah Timur Tengah, tapi sebaliknya budaya ini lebih dapat diterapkan di kalangan umat non-Muslim yang sebagian besar berada di Eropa itu.

Bersempena dengan Hardiknas ini, kita berharap kepada Pemda, khususnya Pemda Rokan Hilir dan pihak terkait untuk dapat mempertimbangkan berdirinya Perpustakaan Daerah atau Perpustakaan Kabupaten ini. Untuk pengadaan buku-buku atau bahan bacaan yang berkualitas, Pemda dapat bekerjasama untuk mencari tahu tentang bacaan-bacaan yang berkualitas itu dengan anak-anak daerah ini yang saat ini juga sudah banyak tersebar di kota-kota besar di wilayah Indonesia ini, bahkan putra daerah Rohil ini juga ada yang merambah sampai ke luar negeri.

Keinginan pemimpin daerah yang didukung oleh masyarakat dan ditopang oleh anggaran dana yang memadai, akan memudahkan kita untuk mewujudkan impian (perpustakaan) besar ini. Semoga do’a dan harapan kita ini dikabulkan oleh Allah Ta’ala melalu tangan-tangan Pemerintah Daerah kita ini. Mudah-mudahan saja. Amien. []
Dimuat di: Posmetro Rohil, Selasa, 2 Mei 2012 -

Read more!

Thursday, April 26, 2012

Pertimbangan Memilih Kuliah di Daerah

Oleh: H. Zamhasari Jamil, MA.
Peminat Pendidikan, berasal dari Kec. Kubu Babussalam, Rokan Hilir.

NUANSA Ujian Nasional (UN) yang menggelora dan membahana belum usai. Meskipun pelaksanaan UN untuk tingkat SMP sederajat dan SMA sederajat sudah selesai dilaksanakan, namun masih menyisakan perihal yang teramat dahsyat yang saat ini dinantikan oleh siswa yang sudah mengikuti UN dan juga tentunya orang tua siswa yang bersangkutan, yaitu pengumuman hasil UN. Keberhasilan pendidikan selama tiga tahun baik di tingkat SMP sederajat dan SMA sederajat ini sangat ditentukan oleh UN yang berlangsung selama empat hari itu.

Bagi siswa yang optimis akan lulus UN ini dan berhajat untuk meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tingggi, tentunya mereka sudah mengancang-ancang ke jurusan apa dan di perguruan tinggi mana mereka akan menancapkan kakinya untuk program pendidikan tinggi tersebut. Oleh karena itu, penulis ingin berbagi pengalaman sebelum siswa yang bersangkutan memutuskan pilihannya untuk program pendidikan tinggi ini.

Pertama, hendaklak siswa yang bersangkutan mengenal betul kepribadiannya sendiri dan mengetahui minat dan bakatnya sebelum memutuskan untuk memilih jurusan yang tepat, sehingga tidak ada istilah menyesal mengambil jurusan dan yang tidak kalah pentingnya juga, jangan sampai memilih jurusan itu karena tekanan dari orang lain dan atau sekedar ikut-ikutan teman atau orang lain karena hal itu akan menyebabkan siswa tersebut akan belajar tidak fokus dan serius nantinya.

Kedua, hendaklah siswa tersebut membuat skala prioritas pilihan jurusan yang dikehendaki, hal ini untuk mengantisipasi frustasi bila siswa tersebut tidak diterima pada pilihan atau opsi pertama. Dengan adanya prioritas pilihan jurusan kedua dan ketiga, tentunya hal ini dapat meminimalisir tingkat kefrustasian dan keputus-asaan tersebut.

Ketiga, bila siswa yang bersangkutan sudah memiliki pilihan jurusan yang menurutnya sudah sangat mantap untuk ditempuhnya, maka hendaklah siswa tersebut mencari dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai perguruan tinggi yang terbaik untuk pilihan jurusannya. Hal ini dapat dilakukan melalui berselancar di internet atau bertanya kepada senior sebagai pendahulunya yang barangkali ada yang dikenal oleh siswa atau orang tua siswa itu.

Berkenaan dengan banyaknya pilihan kampus atau perguruan tinggi untuk jurusan-jurusan yang juga tidak kalah favoritnya di daerah ini, maka tidak ada salahnya bila siswa membuat skala prioritas kampus pertama itu di daerah: daerah Riau terlebih dahulu, karena bila siswa tersebut memutuskan untuk kuliah di daerah saja, dan tidak memilih untuk keluar daerah, maka kepada siswa tersebut diberikan beberapa masukan yang juga patut untuk dipertimbangkan. Diantara pertimbangan memilih kuliah di daerah itu:

Pertama, peluang untuk mengenal daerah secara lebih dekat dan lebih mendalam lagi. Hal ini tentunya merupakan nilai tambahan bagi pelajar atau mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi di daerah sendiri, karena tidak jarang, sekali lagi, tidak jarang putra daerah yang belajar jauh keluar daerahnya, mereka tidak mengenal secara rinci tentang daerahnya sendiri.

Kedua, peluang mengenal masyarakat daerah yang multikultural dan menyenangkan. Seiring dengan masyarakat daerah ini yang terdiri dari beragam suku, bahasa, adat istiadat yang berbeda-beda, maka keputusan untuk kuliah di daerah ini merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mengenal masyarakat daerahnya yang multikural ini.

Ketiga, peluang untuk mengenal dan berkenalan dengan sesama pelajar atau mahasiswa dari semua kabupaten/kota di daerah. Di zaman era globalisasi ini, jaringan atau network turut menentukan dan juga merupakan salah satu faktor dalam menentukan keberhasilan usaha seseorang, maka pilihan untuk kuliah di daerah merupakan kesempatan untuk membangun dan membina jaringan tersebut dengan sesama teman kuliah yang berasaldari seluruh kabupaten/kota di daerah tersebut, terlebih lagi bagi seseorang yang berhajat untuk membuka usaha di daerahnya sendiri.

Keempat, kesempatan untuk meniti karir yang lebih terbuka di daerah. Bila mahasiswa yang selama kuliahnya ini aktif untuk membina silaturrahmi dengan seluruh komponen masyarakat di daerah ini, cepat serta tanggap dalam membaca peluang-peluang usaha di daerah ini, kelak setelah mahasiswa tersebut menjadi sarjana, maka baginya hal ini dapat dijadikan sarana untuk meniti karir di daerah secara tepat sasaran.

Kelima, kesempatan untuk lebih dekat dengan orang tua dan keluarga. Hal ini memang tak dapat dipungkiri bahwa semua orang tua pasti merindui kehadiran sosok anaknya. Sehingga, bagi seorang mahasiswa yang kuliah di daerah, maka peluang untuk bertemu orang tua dan keluarga secara lebih intens dan sering akan dapat dilakukan. Dan ini juga dapat meminimalisir waktu perjalanan yang ditempuh untuk saling bersua antara anak dan orang tua serta keluarga itu.

Keenam, peluang untuk memperkecil biaya transportasi. Biaya transportasi ini merupakan sesuatu yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang mahasiswa. Bila mahasiswa yang bersangkutan kuliah di daerah, tentu biaya transportasinya lebih ringan bila dibandingkan dengan kuliah di luar daerah. Dalam hal biaya transportasi ini, seorang mahasiswa yang hanya mengandalkan pembiayaan dari orang tua yang pas-pasan, maka pilihan untuk tetap kuliah di daerah ini saja, patut pula untuk dipertimbangkan. Demikian tulisan singkat ini dibuat, mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu a’lam.*


Read more!

Sunday, April 01, 2012

Bagaimana Menyikapi Keputusan Pemerintah?

Oleh: H. Zamhasari Jamil, MA.

SALAH satu adegan yang terdahsyat di atas panggung Republik Indonesia akhir-akhir ini adalah geliat BBM bersubsidi yang telah menyedot mayoritas lapisan masyarakat Indonesia untuk turun ke jalan berunjuk rasa memprotes geliat BBM bersubsidi yang didalangi oleh pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono – Boediono. Hampir semua mahasiswa dari seluruh kampus di negeri ini dan beberapa lembaga swadaya masyarakat melakukan protes dan berdemonstrasi menolak kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM tersebut.

Terlepas dari aksi unjuk rasa dan demonstrasi itu, ada pihak-pihak tertentu yang tak mau ketinggalan dengan adegan BBM yang terus menggeliat ini. Mereka seolah tak risau dengan kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut, sebaliknya mereka malah berusaha untuk meraup keuntungan sebesar mungkin dengan menimbun BBM bersubsidi sebanyak-banyaknya dalam rangka menyikapi kenaikan harga BBM bersubsidi yang rencananya diterapkan tanggal 1 April lalu. Perilaku penimbunan ini tentu saja menimbulkan keresahan dan kesusahan bagi masyarakat banyak karena dengan adanya praktek penimbunan secara liar tersebut menimbulkan persoalan baru di lapangan berupa kelangkaan BBM di sebagian besar SPBU.

Sebagian masyarakat juga ada yang menanggapi kenaikan harga BBM ini secara positif. Hal ini tentu saja mengakibatkan perpedaan pandangan yang berujung pada perselisihan di kalangan masyarakat itu sendiri. Disinilah para penentu kebijakan harus arif dan bijaksana dalam bersikap sehingga melahirkan keputusan yang adil terhadap harga BBM ini. Dengan demikian keputusan tersebut tidak mengabaikan kepentingan nasional dan tidak pula mencederai kondisi riil masyarakat yang ternyata masih banyak yang susah, melarat dan mau sakarat, sakaratul maut.

Penimbun BBM dan Mengurangi Timbangan

Islam memandang bahwa praktek penimbunan barang termasuk BBM yang salah satu tujuannya adalah untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya masuk dalam kategori serakah. Padahal serakah adalah sifat yang tercela dalam Islam karena lebih mengedepankan sahwat syaithoniyah yang dikendalikan oleh Iblis. Peringatan bagi para penimbun BBM seperti ini dapat mengambil pelajaran dari apa yang sudah diingatkan oleh Allah SWT terhadap para penimbun harta terdahulu dalam bentuk emas dan perak, sebagaimana yang tertera dalam firmanNya: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35)

Kebijakan menaikkan harga BBM sudah barang tentu berimbas pula pada melonjaknya harga-harga kebutuhan lainnya. Kondisi harga-harga kebutuhan lain yang semakin mahal ini tentu saja akan memperdalam luka di hati masyarakat. Untuk mengantisipasi hal ini, dimana para pedagangpun juga tak mau rugi dengan kondisi seperti ini membuat sebagian pedagang memilih jalur untuk berlaku curang dalam timbangan sehingga seolah-olah harga barang tersebut masih tetap normal dan biasa saja. Munculnya pedagang-pedagang yang suka mengurangi timbangan inipun merupakan masalah baru pula di kalangan masyarakat, padahal Allah SWT sudah mengingatkan: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthaffifin: 1-3)

Yang dimaksud dengan orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Rasulullah SAW sampai ke Madinah, diketahui bahwa orang-orang Madinah termasuk yang paling curang dalam takaran dan timbangan. Maka Allah menurunkan ayat diatas sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam menimbang. Setelah ayat ini turun orang-orang Madinah termasuk orang yang jujur dalam menimbang dan menakar. (Diriwayatkan oleh an-Nasa'i dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Menta’ati Pemimpin yang Adil

Ketahuilah, bahwa jika benar tujuan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi ini untuk kepentingan nasional dan masyarakat banyak, maka kita patut untuk mengikuti keputusan pemerintah ini, karena seseorang belum dikatakan beriman bila tak mentaati pemimpinnya. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri (Pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah keputusan/pendapat itu kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisaa': 59).

Namun, apabila, sekali lagi, apabila keputusan pemerintah ini hanyalah merupakan salah bentuk pesanan dari neo-kapitalisme yang digaungkan dan diagungkan oleh pihak asing, maka kita wajib untuk menolaknya. Dan kepada pemimpin yang masih mampu berbuat adil, Allah tetap mengingatkan agar tetap rendah diri kepada masyarakat. Sebab, dengan keberadaan masyarakat itulah, maka ia menjadi seorang pemimpin. Allah SWT berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy Syu'araa': 215).

Tolong Menolong dan Tidak Boros

Jika pada akhirnya keputusan pemerintah untuk tetap menaikkan harga BBM bersubsidi ini tak dapat kita elakkan lagi, maka diantara jalan keluarnya adalah agar kita sesama masyarakat baik pihak produsen maupun konsumen, atau pihak penjual dan pembeli agar tetap memegang prinsip tolong-menolong sebagaimana yang dianjurkan dalam agama kita. Para penjual hendaklah tidak mengambil keuntungan yang berlebihan sehingga menyusahkan saudara kita yang berstatus sebagai pembeli dan kepada pembelipun hendaklah tidak terlalu boros dan berlebih-lebihan dalam belanja.

Hal ini sesuai dengan panggilan Allah, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maa'idah: 2). Kepada pembelipun Allah SWT sudah mengingatkan, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian (yang patut-patut saja).” (QS. Al-Furqaan: 67). Akhirnya, marilah kita sama-sama berdoa dan bermunajat, semoga Allah SWT tetap melimpahkan karuniaNya kepada kita semua. Amien.

H. Zamhasari Jamil, MA., berasal dari Kec. Kubu Babussalam, Rokan Hilir. E-mail: izamsh@gmail.com

Read more!