Tuesday, April 18, 2006

Permudah Orang, Bukan Dipersulit

Oleh: Zamhasari Jamil

DALAM sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu kali Rasulullah SAW didatangi oleh seorang pemuda yang hendak masuk Islam. Maka bertemulah pemuda tersebut dengan Rasulullah SAW. Sebelum pemuda itu menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah SAW, terlebih dahulu terjadi percakapan antara pemuda tersebut dengan Rasulullah SAW. Untuk mempermudah pemahaman kita, maka percakapan itu dapat saya gambarkan sebagai berikut:

Pemuda : Ya Rasul, saya ingin masuk Islam.
Rasul : Bagus, bagus sekali.
Pemuda : Tapi, Rasul ... ??!
Rasul : Yap, tapi apa?
pemuda : Saya itu suka minum minuman keras, saya suka main cewek (berzina), dan saya hobi main judi, ya Rasul. Dan saya belum bisa meninggalkan itu semua.

Mendengar jawaban yang sangat jujur dan polos ini, Rasul hanya tersenyum sambil meneruskan kalimatnya.

Rasul : Tidak apa-apa anak muda.
Pemuda : Thank you, Rasul.
Rasul : Saya hanya berpesan kepadamu, wahai anak muda, untuk selalu berkata jujur dan meninggalkan bohong (berkata dusta).
Pemuda : Okey Rasul, sure, saya berjanji untuk tidak berkata dusta.

Maka pemuda itu lantas mengucapkan kalimat syahadatain, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak untuk disembah) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah". Pemuda itupun masuk Islam secara sah, baik secara syar'i maupun secara konstitusi.

Dalam perjalanan pulang, pemuda itu bergumam, "Alangkah mulianya sifat Rasul tersebut, dan agama Islam itu memang benar-benar indah. Saya sudah menyatakan secara terang-terangan bahwa saya suka minum, saya suka berzina, suka main judi, tapi yang diminta dari saya adalah untuk selalu berkata jujur yang sudah menjadi kebiasaan saya selama ini. Dan yang dilarang adalah kebiasaan yang selama ini memang saya sendiri sangat membencinya (baca: berkata dusta), pribadimu memang tak ada duanya. I Love you, Rasul."

Nah, setiap kali Rasul bertemu dengan pemuda itu, Rasul tak lupa untuk selalu bertanya, "Wahai anak muda, apakah kamu masih minum, main cewek dan berjudi." Dengan jujur pemuda itu menjawab, "Masih, ya Rasul." Hebatnya, Rasul tak pernah marah mendengar jawaban ini, bahkan Rasul hanya tersenyum saja. Begitulah, setiap Rasul bersua dengan pemuda itu, Rasul selalu mengajukan pertanyaan yang serupa kepada pemuda tersebut.

Untuk yang kesekian kalinya, ketika Rasul mengajukan pertanyaan yang serupa, maka pemuda itu lantas mengatakan, "Mulai hari ini, saya akan meninggalkan semua hal-hal yang dilarang dalam Islam itu, ya Rasul." Rasulpun tersenyum gembira mendengar ucapan anak muda yang sangat-sangat bersahaja ini.

Setelah Rasul berpisah dengan anak muda tersebut, kembali anak muda itu bergumam, "Memang ampuh betullah permintaan Rasul dahulu itu. Permintaan untuk selalu berkata jujur ternyata mampu "meruntuhkan" tiga kesenangan dunia yang tak bisa saya tinggalkan selama ini." Akhirnya anak muda itu menyadari juga bahwa selaku seorang Muslim ia berkewajiban untuk meninggalkan hal-hal yang memang sudah dilarang oleh Allah SWT.

Apa yang hendak saya sampaikan melalui risalah (tulisan) singkat ini adalah: sungguh benar sekali bahwa tidak akan ada lagi nabi dan rasul setelah Rasulullah Muhammad SAW, karena memang Allah SWT sudah menegaskan di dalam Al-Quran bahwa Muhammad SAW itu adalah nabi terakhir dan sekaligus penutup para nabi dan rasul. Hanya kita harus sadar bahwa nilai-nilai kenabian dan kerasulan (prophetic's values) itulah yang mesti kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai umat yang juga mendeklarasikan bahwa kita adalah umat yang beragama (beragama Islam).

Dalam kaitannya dengan kita sebagai mahasiswa/i yang merupakan "lembaga" pemegang amanah untuk memelihara agama, bangsa dan negara dimasa mendatang, tentu saja penerapan "prophetic's values" dalam kehidupan kita sehari-hari menjadi sesuatu yang tak boleh diabaikan begitu saja. Diantara sekian banyak "prophetic's values" yang perlu kita ingat adalah pesan (sabda) Rasulullah SAW yang berbunyi, "Yassiruu, wa la tu'assiruu. Basysyiruu, wa la tunadzdziruu". Artinya, permudah urusan orang, jangan dipersulit. Gembirakan (hati) orang, jangan (pula) ditakut-takuti).

Pesan Rasulullah SAW diatas perlu mendapatkan tempat yang layak terutama bagi mereka yang saat ini sedang memegang anamah untuk melayani masyarakat banyak. Muhammad Yamin, guru saya yang sangat saya kagumi ketika belajar di Pesantren dulu pernah mengingatkan saya bahwa "Amanah is amanah", suatu pesan sederhana namun memiliki makna yang sangat luas. Kita harus ingat, apapun jabatan yang kita sandang saat ini, suatu saat akan diambil kembali oleh Dzat Hakiki yang memberikan amanah itu tadi.

Adalah sangat sombong sekali mereka yang memegang amanah itu namun masih tetap berani menzhalimi orang banyak dengan alasan yang membuat orang "tertawa geli" mendengar alasan-alasan yang disodorkan tersebut. Sangat banyak contoh orang-orang yang terlalu membusungkan dada dengan jabatannya, namun berakhir tragis dan menyedihkan diakhir masa jabatannya. Apakah itu belum cukup untuk menjadi pelajaran bagi kita? Ingatlah bahwa do'a orang yang dizhalimi adalah diijabah (didengar dan diterima) oleh Allah SWT.

Dan kita tak akan pernah tahu dari mulut siapa do'a diijabah itu langsung diterima oleh Allah SWT. Ada kalimat arab yang berbunyi begini (apakah syair atau hadist, saya lupa): "Iktsiruu bidu'ail khairi, fa innaka la tadri min ayyi faahin tuqbalu.". Artinya, perbanyak minta do'a yang baik dari orang lain, karena sesungguhnya engkau tak akan pernah tahu dari mulut siapa do'a yang maqbul itu diterima (oleh Allah SWT)."

Terakhir, untuk tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Ust. Muchlis Zamzami, saya ingin mengulang hadist Rasulullah SAW yang berbunyi, "Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu .... dst." Sentilan saya dalam risalah sederhana ini, tentu saja, merupakan usaha saya dalam memerangi "kemungkaran" dimana saya memahami tangan disitu, salah satunya sebagai kemampuan dalam memerangi kemungkaran melalui tulisan dimana tangan memegang peranan yang sangat strategis dalam melahirkan sentilan ini. Wallahua'lamu ma fi qalbil 'amiiqi. ***

Zamhasari Jamil, pelajar lulusan Department of Islamic Studies, Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.

1 Comments:

Blogger ida abidin said...

assalamualaikum

Artikel yang bagus. yang begini nih bacaan yang seharusnya dibaca para santriwati. makin top deh ustadz Izams :)

10:26 PM  

Post a Comment

<< Home